Hot News
Thursday, January 5, 2017

Fidel Alejandro Castro Ruz, Pemimpin Revolusi Kuba (Edisi 2)

Fidel Alejandro Castro Ruz, Pemimpin Revolusi Kuba


(Bagian kedua)


Revolusi yang dicetuskan Fidel Alejandro Castro Ruz di Kuba 55 tahun lalu hingga sekarang masih tetap hidup dan selama ini pula negara itu telah melewati berbagai pasang surut. Kuba telah melalui sebuah jalan panjang dari perubahan revolusi nasionalis ke revolusi sosialis dan konfrontasi dengan kekuatan-kekuatan adidaya Barat hingga kerjasama dengan kekuatan-kekuatan Timur.

Kuba merupakan negara pulau yang terletak di Teluk Meksiko, Laut Karibia. Sebelumnya, Kuba telah lama menjadi jajahan Spanyol. Di masa Perang Dingin, Kuba yang letaknya sangat strategis juga tidak luput dari incaran perluasan pengaruh dan ideologi negara-negara adidaya. Kuba merupakan negara republik komunis pertama yang berada di belahan bumi Barat. Letak Kuba yang dekat dengan Amerika Serikat menjadi ancaman serius bagi Negara Adidaya ini.

Selama bertahun-tahun, Kuba menjadi pusat persaingan senjata di masa Perang Dingin hingga kekuatan-kekuatan dunia hampir memasuki perang nuklir. Ketegangan di Kuba dimulai ketika Uni Soviet menempatkan rudal-rudal nuklir di negara ini pada 1962. AS meresponnya dengan melakukan blokade di perairan internasional. Publik dunia meyakini bahwa ini adalah saat terdekat dunia dengan bencana nuklir. Namun Uni Soviet mundur dan setuju untuk menarik rudal-rudalnya dengan imbalan janji AS untuk menyingkirkan misil-misil nuklir serupa di Turki dan berjanji untuk tidak pernah menyerang Kuba.

Sejak Fidel Castro berkuasa, AS secara progresif memberlakukan undang-undang yang dimaksudkan untuk mengisolasi Kuba secara ekonomi lewat embargo dan langkah-langkah lainnya, seperti menghukum warga AS yang berlibur di Kuba. Akibat embaro ekonomi AS dan inefisiensi program komunis, Kuba mengalami kerugian besar. Pada tahun-tahun itu, kebijakan, ekonomi, budaya dan sosial di Kuba berada di bawah kebijakan Fidel Castro. Lalu seberapakah peran Fidel dalam pembentukan Kuba modern?

Fidel Castro mencapai kekuasaan di  Kuba ketika ia berumur 33 tahun. Ia dan rekan-rekan seperjuangannya termasuk Ernesto Che Guevara adalah orang-orang yang mengejar keadilan, kesetaraan, kemerdekaan dan kebebasan bagi rakyat Kuba. Tujuan-tujun ini tidak mungkin dicapai kecuali dengan meruntuhkan rezim diktator sebelumnya. Sebab, rezim sebelumnya, Fulgencio Batista adalah rezim yang mementingkan kepentingan asing dan berafiliasi dengan AS.

AS yang awalnya mendukung rezim di Kuba pada masa kekuasaan Fulgencio Batista (1933-1944) perlahan mulai menarik dukungannya karena Batista tidak lagi didukung oleh rakyatnya. Hal tersebut menandai bahwa usaha AS dalam membendung revolusi dengan berpihak pada Batista telah gagal karena rakyat pada dekade akhir 1950-an mulai mendukung revolusi yang dipimpin Fidel Castro.

Setelah rezim Batista tumbang, langkah pertama pemerintahan revolusi di Kuba adalah melakukan reformasi. Fidel menasionalisasi perusahaan-perusahaan besar AS dan mengakhiri perbudakan Washington terhadap Havana. Melihat perkembangan tersebut, AS menjadi curiga bahkan frontal kepada pemerintahan revolusioner Kuba terutama setelah Fidel menasionalisasi properti-properti yang dimiliki AS dan bersekutu dengan Partai Komunis serta bersahabat dengan Uni Soviet. Sebab, Uni Soviet adalah musuh bebuyutan AS dalam Perang Dingin.

Pemerintah AS tetap memandang bahwa revolusi yang dikobarkan Fidel Castro disponsori pihak komunis. Hal ini akibat tindakan Fidel yang banyak mengubah kehidupan Kuba yang mendekati slogan komunis, sama rasa dan sama rata. Fidel banyak membangun sekolah dan rumah untuk warga yang tidak mampu. pemerintah juga mulai mengontrol semua penerbitan surat kabar serta siaran radio dan televisi. Tindakan Fidel makin lama mengkhawatirkan AS, apalagi ia makin berani menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang berada di Kuba.

AS mengambil tindakan tegas dengan menghentikan hubungannya dengan Kuba pada tahun 1961. Negara itu memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Kuba dan memberlakukan embargo perdagangan dan perjalanan. Menghadapi langkah tersebut, Fidel menjalin hubungan dengan negara-negara komunis, seperti Cina dan Uni Soviet. Dari negara-negara tersebut, Kuba berharap agar bisa mendapat bantuan ekonomi untuk melaksanakan dan melanjutkan pembangunan.

AS yang melihat Kuba masuk ke blok komunis merasa makin khawatir atas keselamatan negaranya. Sebab, jarak Kuba dengan AS hanya puluhan mil. Atas kekhawatiran itu, Washington berniat menggulingkan pemerintahan Fidel Castro. Untuk mencapai tujuan tersebut, AS menggunakan para pelarian Kuba yang tinggal di negara ini. Dari orang-orang pelarian itu, AS berharap dapat menguasai Teluk Babi yang dapat dipakai sebagai lompatan untuk menundukkan Havana, ibu kota Kuba. Dinas Intelijen AS (CIA) ditugaskan melatih orang-orang pelarian Kuba agar berhasil dalam misinya. Sekitar 1.200 orang pelarian Kuba di AS berhasil dikumpulkan dan dilatih militer.

Presiden baru AS John Fietzgeerald Kennedy menyetujui rencana penggulingan Fidel Castro melalui orang-orang Kuba sendiri. Kennedy bahkan memerintahkan untuk memberi perlindungan dan pengawalan dalam penyerbuan Teluk Babi melalui pelarian orang-orang Kuba dilaksanakan. Peristiwa itu kemudian disebut The Bay Pig’s Episode atau Episode Teluk Babi. Namun, pada detik-detik terakhir penyerangan, Kennedy membatalkan bantuan perlindungan dan pengawalan. Akibatnya, pemerintah Kuba mudah mematahkan penyerbuan orang-orang Kuba pelarian itu.

Menyusul insiden di Teluk Babi, hubungan Kuba dan AS makin renggang. Sementara itu, pemimpin Uni Soviet, Khruschev segera memanfaatkan situasi tersebut untuk secara intensif mendekati Kuba. Ia menawarkan paket bantuan ekonomi yang lebih besar lagi apabila Kuba bersedia mengizinkan Uni Soviet membangun pangkalan militer dan menempatkan rudal nuklirnya di wilayah tersebut. Ia berencana rudal-rudalnya akan dapat diarahkan ke AS tanpa ada hambatan.

Keinginan Uni Soviet mendapat penentangan dari AS. Presiden Kennedy menyatakan bahwa penempatan rudal Uni Soviet di Kuba merupakan ancaman langsung terhadap AS. Oleh karena itu, Washington akan mengambil segala cara untuk menggagalkannya. Salah satu tindakan AS dalam menggagalkan pembangunan pangkalan militer dan rudal Uni Soviet adalah menghadang setiap kapal Uni Soviet yang menuju ke Kuba. Tindakan itu menimbulkan krisis yang hampir membawa dunia dalam perang nuklir.

Karena merasa belum seimbang kekuatan militernya, akhirnya Uni Soviet membatalkan penempatan pangkalan militer dan rudalnya di Kuba. Apalagi, AS juga berjanji tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Kuba. Hubungan baik Kuba dengan AS mulai membaik pada tahun 1973 setelah kedua negara membuat perjanjian mengenai pertukaran pembajak. Pada tahun 1975 embargo ekonomi terhadap Kuba yang diberlakukan AS mulai dihapus. Namun, hubungan kedua negara memanas lagi setelah pada akhir 1975 Kuba mengirim pasukan ke Angola.

Fidel Castro menjadi salah satu pemimpin di dunia yang berkuasa paling lama. Fidel berkuasa dari 2 Desember 1976 hingga 24 Februari 2008 meskipun secara de facto berakhir pada 31 Juli 2006 dan menyerahkan kekuasaannya sementara pada adiknya Raul Castro karena kesehatannya yang bermasalah, di mana pada tahun 2004, kesehatan Fidel menurun setelah jatuh ketika berpidato.

Menjelang hari ulang tahunnya ke-80 yang jatuh pada 13 Agustus 2006, ia menyerahkan tampuk kepemimpinannya untuk sementara waktu kepada adiknya, Raul Castro. Dengan demikian, Raul merangkap jabatan; sebagai Presiden dan Menteri Pertahanan Kuba. Penyerahan kekuasaan ini merupakan pertama kali sejak ia memerintah Kuba pada 1976.

Pada 19 Februari 2008, lima hari sebelum mandatnya berakhir, Fidel menyatakan tidak akan mencalonkan diri maupun menerima masa bakti baru sebagai Presiden atau komandan Angkatan Bersenjata Kuba. Jabatannya digantikan oleh adiknya, Raul Castro. Selama 10 tahun pasca pelepasan kekuasan Fidel di Kuba, terjadi reformasi di bidang politik, ekonomi dan sosial. kepemilikan swasta di sektor ekonomi Kuba juga diakui secara resmi.

Menyusul  pencabutan sanksi AS, terbuka peluang bagi para investor asing untuk aktif di sektor ekonomi Kuba. Rakyat Kuba berharap dengan berlanjutnya reformasi di negara mereka, kesejahteraan dan kebebasan sipil meningkat. Dalam kondisi ketika revolusi Kuba tampaknya telah aman dari ancaman internal dan eksternal, Bapak Revolusi Kuba, Fidel Castro meninggal dunia.


Bersambung......!!!!
Item Reviewed: Fidel Alejandro Castro Ruz, Pemimpin Revolusi Kuba (Edisi 2) Rating: 5 Reviewed By: The Indonesian Post